Di sekolah kita, sudah terkenal kalo Isaac Newton-lah yang mengembangkan teori mengenai lensa, sinar, dan bentuk prisma yang menjadi dasar bagi teori modern mengenai optik, pada abad ke-17. Jauh sebelum itu, pada abad ke-11 seorang ilmuwan Islam, Ibnu al-Haitsam, menemukan dasar bagi teori tersebut.

KITAB AL-MANAZHIR

Ibnu al-Haitsam bernama lengkap Abu Ali Muhammad Ibn al-Hasan Ibn al-Haitsam. Ilmuwan yang di barat terkenal dengan nama Alhazen ini lahir di Basrah, Irak tahun 965 M, dan meninggal di Kairo, 1039 M. Ia adalah ilmuwan fisika terkenal abad pertengahan dan telah menulis 200 karya ilmiah. Walaupun ia menyumbang pemikiran-pemikiran penting dalam ilmu matematika, astronomi, obat-obatan, dan farmasi. Tapi ia terkemuka dalam bidang fisika, khususnya optik.

Kitab ilmu optiknya yang terkenal adalah Kitab al-Manazhir. Inilah kitab yang pertama kali menjelaskan teori optik modern, termasuk system penglihatan manusia. Hingga 500 tahun kemudian, kitab ini bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optic sehingga teori-teori di kitab ini dikutip banyak ilmuwan. Pada 1572 M, kitab ini diterjemahkan ke bahasa latin dengan dengan judul Opticae Thesaurus.

IBNU AL-HAITSAM MEMBANTAH

Ibnu al-Haitsam-lah yang pertama kali menemukan bahwa cahaya merambat lurus. Masalah ini ditulisnya dalam bab tiga volume pertama kitabnya.

Ia membuat percobaan yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.

Dalam buku yang sama, ia menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam, dan juga teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga melakukan percobaan untuk menjelaskan penglihatan binokular dan memberikan penjelasan yang benar tentang peningkatan ukuran matahari dan bulan ketika mendekati horison.

Beliau juga mengungkapkan teori konvergensi cahaya, bahwa cahaya putih terdiri dari beragam warna cahaya. Enam abad setelahya, Newton baru menemukannya.

Ibnu al-Haitsam mencatatkan sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra penglihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Salah satunya yang terkenal adalah ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan oleh dua ilmuwan yunani, Ptolemy dan Euclid.

Kedua ilmuwan yunani ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu al-Haitsam mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.

Dalam buku ini, ia menjelaskan bagaimana mata bisa melihat objek. Ia menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia.

MENEMUKAN PRINSIP DASAR KAMERA

Salah satu karyanya yang paling monumental adalah ketika Ibnu al-Haitsam bersama muridnya, Kamal ad-din, untuk pertama kali meneliti dan merekam fenomena kamera obsecura. Ibnu al-Haitsam menyebutnya sebagai al-Baith al-Muzhlim alias ruang gelap. Ruang gelap Ibnu al-Haitsam ini merupakan prototype kamera fotografi modern.

Penemuan Ibnu al-Haitsam ini berawal dari teorinya tentang kemampuan bulan untuk memantulkan cahaya walaupun bulan sendiri bukan merupakan benda yang mengkilap. Teorinya ini membawa ke penemuan bahwa seluruh benda berwarna meneruskan cahaya dan cahaya serta warna tersebut identik. Untuk membuktikan teori inilah, ruang gelap ia bikin, berupa sebuah ruang gelap dengan sebuah lubang kecil di dindingnya. Lewat lubang itu, sebuah benda yang terbalik diproyeksikan ke dinding seberangnya. Geronimo Cardano, yang terpengaruh oleh teori-teori Ibnu al-Haitsam, 500 tahun kemudian, menyarankan lubang kecil itu diganti dengan lensa. Pelat fotografi, 900 tahun kemudian setelah penemuan ruang gelap Ibnu al-Haitsam ini, digunakan untuk menangkap citra yang diproduksi kamera obscura secara permanent.

Sebenarnya, memang banyak teknologi modern yang didasari teori-teori yang ditemukan oleh orang islam berabad-abad lalu. Saat itu, orang eropa belum bisa apa-apa. Misal saja, Roger Bacon pada 1292 M mengemukakan tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu penglihatan. Pada abad ke-9 (dua abad sebelumnya), Ibnu Firnas dari spanyol sudah jualan kaca mata ke seluruh Spanyol.

Ayo, kamu-kamu yang bergerak di bidang umum, dukung juga kembalinya kejayaan islam dengan menekuni ilmumu dan mempergunakannya di jalan yang benar! (irvsya)

Oleh: abuamr | Juli 26, 2009

ada apa di balik virus flu babi?

mengkonsumsi daging babi, halal atau haram? bagaimana pula pandangan Al-Qur’an dan bibel mengenai daging babi?

Fakta bahwa mengonsumsi daging babi diharamkan dalam Islam sudah banyak diketahui. Poin-poin berikut menjelaskan beberapa aspek dari larangan ini:

* Pertama, daging babi diharamkan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengharamkan mengonsumsi daging babi tidak kurang di tiga ayat yang berbeda yaitu dalam surat Al-Baqarah: 173, Al-Maidah: 3, dan An-Nahl: 115.

Dalam surat Al-Maidah, Allah Ta’ala berfirman, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala…” (QS. Al-Maidah: 3)

Ayat-ayat Al-Qur’an di atas sudah cukup memuaskan bagi seorang muslim menyangkut mengapa daging babi diharamkan.

* Kedua, daging babi diharamkan dalam Bibel (Injil)

Orang Kristen seharusnya meyakini kitab sucinya. Bibel melarang manusia untuk mengonsumsi daging babi. Hal ini disebutkan dalam kitab Imamat, “Demikian juga babi, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya berselang panjang tetapi tidak memamah biak; haram bagimu. Daging-daging binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh. Haram semuanya itu bagimu.” (Imamat 11: 7-8)

Daging babi juga dilarang Bibel dalam kitab Ulangan, “Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak. Haram bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.” (Ulangan: 14-18)

Larangan serupa diulangi dalam Bibel dalam kitab Yesaya bab 65 ayat 2-5.

* Ketiga, daging babi menyebabkan beberapa penyakit

Orang-orang non Islam dan ateis hanya setuju jika mereka diyakinkan dengan menggunakan akal, logika, dan sains. Perilaku mengonsumsi daging babi bisa menyebabkan sekitar tujuh puluh jenis penyakit. Seseorang yang memakan daging babi akan terancam gangguan cacing seperti cacing gelang, cacing kerawit, cacing tambang, dll. Salah satu yang paling berbahaya adalah Taenia Solium atau cacing pita. Cacing ini bersemayam dalam usus besar dan sangat panjang. Ova atau telurnya memasuki aliran darah dan bisa mencapai hampir seluruh organ tubuh. Jika memasuki otak, ia bisa menyebabkan hilang ingatan. Jika memasuki jantung, ia bisa menyebabkan serangan jantung. Jika memasuki mata, ia bisa menyebabkan kebutaan. Jika memasuki hati, ia bisa merusak hati. Cacing lainnya yang sangat berbahaya adalah Trichura Tichurasis

Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi tentang daging babi adalah jika dimasak sampai matang, maka telur-telur cacing itu akan mati. Dalam sebuah penelitian di Amerika, ditemukan bahwa cacing Trichura Tichurasis tidak mati ketika dimasak dalam suhu masak normal.

Flu Babi atau Swine Flu/Influenza adalah penyakit saluran pernafasan pada babi, yang disebabkan virus influenza jenis A. Virus flu ini menyebabkan kesakitan yang berat pada babi tetapi angka kematiannya rendah. Virus ini (type A H1N1 virus) pertama kali di isolasi dari babi pada tahun 1930.

Seperti semua virus influenza, virus flu babi berubah secara konstan. Babi bisa terinfeksi virus avian influenza (virus flu burung) dan virus flu manusia. Jika berbagai virus ini menyerang babi, maka virus ini akan mampu membentuk spesien2 virus baru, yang merupakan gabungan virus avian, manusia dan swine. Sampai saat ini sudah berhasil diisolasi sebanyak 4 sub-type A: H1N1, H1N2, H3N2, and H3N1. H1N1 merupakan virus jebis baru yang baru saja ditemukan pada babi.

Virus Swine flu sebetulnya secara normal tidak menginfeksi manusia. Namun secara sporadis dilaporkan adanya infeksi virus ini pada manusia seperti yang terjadi di US dan mexico. Seringnya orang yang terkena adalah orang2 yang bekerja pada peternakan/industri yang berhubungan dengan babi. Juga dilaporkan adanya penyebaran antar manusia.

Dahulu CDC menerima laporan hanya 1-2 kasus flu ini setiap 1 sampai 2 tahun. tetapi sejak Desember 2005 s/d Februari 2009, 12 kasus telah dilaporkan. Gejala swine flu pada manusia mirip dengan gejala virus influenza manusia berupa: demam, pegel2, lemes, hilang nafsu makan, dan batuk. Beberapa pasien yang terkena swine flu mengeluhkan pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare.

Virus swine influenza tidak ditularkan melalui makanan. Memasak makanan sampai suhu 160°F akan mematikan virus ini. Virus influenza bisa menular dari babi ke manusia atau sebaliknya. Infeksi pada manusia terjadi terutama jika berada dekat2 babi yang terinfeksi seperti berada dalam kandang babi dll. Infeksi dari manusia ke manusia lain juga bisa terjad, mirip sperti flu manusia, yaitu melalui bersin atau batuk. Bisa juga lewat sentuhan tangan, kemudian tangan tersebut menyentuh mulut atau hidung.

Untk mendiagnosis infeksi swine influenza, dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama. Spesimen ini8 kemudian diperiksakan di Laboratorium.

Ada 4 macam obat antivirus yang beredar di US untuk mengobati influenza: amantadine, rimantadine, oseltamivir san zanamivir. Pada umunya virus swine influenza masih mempan dengan obat2 ini. Tetapi hasil isolasi virus swine terbaru dari manusia didapatkan resisten terhadap amantadine dan rimantadine. Sehingga saat ini obat yang dianjurkan untuk mengobati serta mencegah swine influenza adalah oseltamivir atau zanamivir.


Oleh: abuamr | Juni 1, 2009

TAUBATNYA 3 WANITA SYIAH

Bismillahirrahmaanirrahiem, semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi dan Rasul termulia, junjungan kami Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung, kepada-Mu kami memohon pertolongan dan kepada-Mu kami bertawakkal. Engkaulah Yang Memulai dan Mengulangi, Ya Allah kami berlindung dari kejahatan perbuatan kami dan minta tolong kepada-Mu untuk selalu menaati-Mu, dan kepada-Mu lah kami bertawakkal atas setiap urusan kami.

Semenjak lahir, yang kutahu dari akidahku hanyalah ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait. Kami dahulu memohon pertolongan kepada mereka, bersumpah atas nama mereka dan kembali kepada mereka tiap menghadapi bencana. Aku dan kedua saudariku telah benar-benar meresapi akidah ini sejak kanak-kanak.
Kami memang berasal dari keluarga syi’ah asli. Kami tidak mengenal tentang mazhab ahlussunnah wal jama’ah kecuali bahwa mereka adalah musuh-musuh ahlulbait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Merekalah yang merampas kekhalifahan dari tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dan merekalah yang membunuh Husain.

Akidah ini semakin tertanam kuat dalam diri kami lewat hari-hari “Tahrim”, yaitu hari berkabung atas ahlul bait, demikian pula apa yang diucapkan oleh syaikh kami dalam perayaan Husainiyyah dan kaset-kaset ratapan yang memenuhi laciku.

Aku tak mengetahui tentang akidah mereka (ahlussunnah) sedikitpun. Semua yang kuketahui tentang mereka hanyalah bahwa mereka orang-orang munafik yang ingin menyudutkan ahlul bait yang mulia.

Faktor-faktor di atas sudah cukup untuk menyebabkan timbulnya kebencian yang mendalam terhadap penganut mazhab itu, mazhab ahlussunnah wal jama’ah.

Benar… Aku membenci mereka sebesar kecintaanku kepada para Imam. Aku membenci mereka sesuai dengan anggapan syi’ah sebagai pihak yang terzhalimi.

Keterkejutan pertama
Ketika itu Aku sedang duduk di sekolah dasar. Di sekolah aku mendengar penjelasan Bu Guru tentang mata pelajaran tauhid. Beliau berbicara tentang syirik, dan mengatakan bahwa menyeru selain Allah termasuk bentuk menyekutukan Allah. Contohnya seperti ketika seseorang berkata dalam doanya: “Hai Fulan, selamatkan Aku dari bencana… tolonglah Aku” lanjut Bu Guru. Maka kukatakan kepadanya: “Bu, kami mengatakan “Ya Ali”, apakah itu juga termasuk syirik?” Sejenak kulihat beliau terdiam… seluruh murid di sekolahku, dan sebagian besar guru-gurunya memang menganut mazhab syi’ah… kemudian Bu Guru berkata dengan nada yakin: “Iya, itu syirik” kemudian langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku:
“Bukankah doa adalah ibadah?”
“Tidak tahu”, jawabku.
“Coba perhatikan, apa yang Allah katakan tentang doa berikut”, lanjutnya seraya membaca firman Allah:

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (Ghaafir: 60).

“Bukankah dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa berdoa adalah ibadah, lalu mengancam orang yang enggan dan takabbur terhadap ibadah tersebut dengan Neraka?” tanyanya.

Setelah mendengar pertanyaan tersebut, aku merasakan suatu kejanggalan… aku merasa kecewa… segudang perasaan menggelayuti benakku tanpa bisa kuungkapkan. Saat itu aku berangan-angan andaikan aku tak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Lalu kutatap dia untuk kedua kalinya… ia tetap tegar laksana gunung.

Waktu pulang kutunggu dengan penuh kesabaran, Aku berharap barangkali ayah dapat memberi solusi atas permasalahanku ini… maka sepulangku dari sekolah, kutanya ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Bu Guru tadi.

Ayah serta merta mengatakan bahwa Bu Guru itu termasuk yang membenci Imam Ali. Ia mengatakan bahwa kami tidaklah menyembah Amirul Mukminin, kami tidak mengatakan bahwa dia adalah Allah sehingga Gurumu bisa menuduh kami telah berbuat syirik… jelas ayah.

Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban ayahku, sebab Bu Guru berdalil dengan firman Allah. Ayah lalu berusaha menjelaskan kepadaku kesalahan mazhab sunni hingga kebencianku semakin bertambah, dan aku semakin yakin akan batilnya mazhab mereka.

Aku pun tetap memegangi mazhabku, mazhab syi’ah; hingga adik perempuanku melanjutkan karirnya sebagai pegawai di Departemen Kesehatan.

Sekarang, biarlah adikku yang melanjutkan ceritanya…
Setelah masuk ke dunia kerja, aku berkenalan dengan seorang akhwat ahlussunnah wal jama’ah. Ia seorang akhwat yang multazimah (taat) dan berakhlak mulia. Ia disukai oleh semua golongan, baik sunni maupun syi’ah. Aku pun demikian mencintainya, dan berangan-angan andai saja dia bermazhab syi’ah.

Saking cintanya, aku sampai berusaha agar jam kerjaku bertepatan dengan jam kerjanya, dan aku sering kali bicara lewat telepon dengannya usai jam kerja.

Ibu dan saudara-saudaraku tahu betapa erat kaitanku dengannya, sebab itu aku tak pernah berterus terang kepada mereka tentang akidah sahabatku ini, namun kukatakan kepada mereka bahwa dia seorang syi’ah, tak lain agar mereka tidak mengganggu hubunganku dengannya.

Permulaan hidayah
Hari ini, aku dan sahabatku berada pada shift yang sama. Kutanya dia: “Mengapa di sana ada sunni dan syi’ah, dan mengapa terjadi perpecahan ini?” Ia pun menjawab dengan lembut:
“Ukhti, sebelumnya maafkan aku atas apa yang akan kuucapkan… sebenarnya kalianlah yang memisahkan diri dari agama, kalian yang memisahkan diri dari Al Qur’an dan kalian yang memisahkan diri dari tauhid!!”

Kata-katanya terdengar laksana halilintar yang menembus hati dan pikiranku. Aku memang orang yang paling sedikit mempelajari mazhab di antara saudari-saudariku. Ia kemudian berkata:

“Tahukah kamu bahwa ulama-ulama kalian meyakini bahwa Al Qur’an telah dirubah-rubah, meyakini bahwa segala sesuatu ada di tangan Imam, mereka menyekutukan Allah, dan seterusnya…?” sembari menyebut sejumlah masalah yang kuharap agar ia diam karena aku tidak mempercayai semua itu.

Menjelang berakhirnya jam kerja, sahabatku mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya seraya mengatakan bahwa itu adalah tulisan saudaranya, berkenaan dengan haramnya berdoa kepada selain Allah. Kuambil lembaran-lembaran tersebut, dan dalam perjalanan pulang aku meraba-rabanya sambil merenungkan ucapan sahabatku tadi.

Aku masuk ke rumah dan kukunci pintu kamarku. Lalu mulailah kubaca tulisan tersebut. Memang, hal ini menarik perhatianku dan membuatku sering merenungkannya.

Pada hari berikutnya, sahabatku memberiku sebuah buku berjudul “Lillaah, tsumma littaariekh” (Karena Allah, kemudian karena sejarah). Sumpah demi Allah, berulang kali aku tersentak membaca apa yang tertulis di dalamnya. Inikah agama kita orang syi’ah? Inikah keyakinan kita?!!

Sahabatku pun semakin akrab kepadaku. Ia menjelaskan hakikat banyak hal kepadaku. Ia mengatakan bahwa ahlussunnah mencintai Amirul Mukminin dan keluarganya.

Benar… aku pun beralih menganut mazhab ahlussunnah tanpa diketahui oleh seorang pun dari keluargaku. Sahabatku ini selalu menghubungiku lewat telepon. Bahkan saking seringnya, ia sempat berkenalan dengan kakak perempuanku.

Sekarang, biarlah kakakku yang melanjutkan ceritanya…
Aku mulai berkenalan dengan akhwat yang baik ini. Sungguh demi Allah, aku jadi cinta kepadanya karena demikian sering mendengar cerita adikku tentangnya. Maka begitu mendengar langsung kata-katanya, aku semakin cinta kepadanya…

Permulaan hidayah
Hari itu, aku sedang membersihkan rumah dan adikku sedang bekerja di kantor. Aku menemukan sebuah buku bergambar yang berjudul: “Lillaah, tsumma littaariekh”.

Aku pun membukanya lalu membacanya… sungguh demi Allah, belum genap sepuluh halaman, aku merasa lemas dan tak sanggup merampungkan tugasku membersihkan rumah. Coba bayangkan, dalam sekejap, akidah yang ditanamkan kepadaku selama lebih dari 20 tahun hancur lebur seketika.

Aku menunggu-nunggu kembalinya adikku dari kantornya. Lalu kutanya dia: “Buku apa ini?”

“Itu pemberian salah seorang suster di rumah sakit”, jawabnya.

“Kau sudah membacanya?” tanyaku.

“Iya, aku sudah membacanya dan aku yakin bahwa mazhab kita keliru”, jawabnya.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya.

“Baru beberapa halaman” jawabku.

“Bagaimana pendapatmu tentangnya?” tukasnya.

“Kurasa ini semua dusta, sebab kalau benar berarti kita betul-betul sesat dong”, sahutku.

“Mengapa tidak kita tanyakan saja isinya kepada Syaikh?” pintaku.

“Wah, ide bagus” katanya.

Buku itu lantas kukirimkan kepada Syaikh melalui adik laki-lakiku. Kuminta agar ia menanyakan kepada Syaikh apakah yang tertulis di dalamnya benar, ataukah sekedar kebohongan dan omong kosong?

Adikku mendatangi Syaikh tersebut dan memberinya buku itu. Maka Syaikh bertanya kepadanya: “Dari mana kau dapat buku ini?”

“Itu pemberian salah seorang suster kepada kakakku” jawabnya.

“Biarlah kubaca dulu” kata Syaikh, sembari aku berharap dalam hati agar kelak ia mengatakan bahwa semuanya merupakan kebohongan atas kaum syi’ah. Akan tetapi, jauh panggang dari api! Kebatilan pastilah akan sirna…

Aku terus menunggu jawaban dari Syaikh selama sepuluh hari. Harapanku tetap sama, barang kali aku mendapatkan sesuatu darinya yang melegakan hati.

Namun selama sepuluh hari tadi, aku telah mengalami banyak perubahan. Kini sahabat adikku sering berbicara panjang lebar denganku lewat telepon, bahkan ia seakan lupa kalau mulanya ia ingin bicara dengan adikku. Kami bicara panjang lebar tentang berabagai masalah.

Pernah suatu ketika ia menanyaiku: “Apa kau puas dengan apa yang kita amalkan sebagai orang syi’ah selama ini?”. Aku mengira bahwa dia adalah syi’ah, dan dia tahu akan hal itu…

“Kurasa apa kita berada di atas jalan yang benar”, jawabku.

“Lalu apa pendapatmu terhadap buku milik adikmu?” tukasnya. Akupun terdiam sejenak… lalu kataku:
“Buku itu telah kuberikan ke salah seorang Syaikh agar ia menjelaskan hakikat buku itu sebenarnya”.
“Kurasa ia takkan memberimu jawaban yang bermanfaat, aku telah membacanya sebelummu berulang kali dan kuselidiki kebenaran isinya… ternyata apa yang dikandungnya memang sebuah kebenaran yang pahit”, jelasnya.

“Aku pun menjadi yakin bahwa apa yang kita yakini selama ini adalah batil” lanjutnya.

Kami terus berbincang lewat telepon dan sebagian besar perbincangan itu mengenai masalah tauhid, ibadah kepada Allah dan kepercayaan kaum syi’ah yang keliru. Tiap hari bersamaan dengan kepulangan adikku dari kantor, ia menitipkan beberapa lembar brosur tentang akidah syi’ah, dan selama itu aku berada dalam kebingungan…

Aku teringat kembali akan perkataan Bu Guru yang selama ini terlupakan. Kuutus adik lelakiku untuk menemui Syaikh dan meminta kembali kitab tersebut beserta bantahannya. Akan tetapi sumpah demi Allah, lagi-lagi Syaikh ini mengelak untuk bertemu dengan adikku. Padahal sebelumnya ia selalu mencari adikku, dan kini adikku yang justru menelponnya. Namun keluarga Syaikh mengatakan bahwa dia tidak ada, dan ketika adikku bertemu dengannya dalam acara Husainiyyah dan menanyakan kitab tersebut; Syaikh hanya mengatakan: “Nanti”, demikian seterusnya selama dua bulan.

Selama itu, hubunganku dengan sahabat adikku lewat telepon semakin sering, dan disela-selanya ia menjelaskan kepadaku bahwa dirinya seorang sunni, alias ahlussunnah wal jama’ah. Dia berkata kepadaku:
“Jujur saja, apa yang membuat kalian membenci Ahlussunnah wal Jama’ah?”

Aku sempat ragu sejenak, namun kujawab: “Karena kebencian mereka terhadap Ahlulbait”.

“Hai Ukhti, Ahlussunnah justeru mencintai mereka”, jawabnya.

Kemudian ia menerangkan panjang lebar tentang kecintaan Ahlussunnah terhadap seluruh keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beda dengan Syi’ah Rafidhah yang justeru membenci sebagian ahlul bait seperti isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Benar, kini aku tahu tentang akidah Ahlussunnah wa Jama’ah dan aku mulai mencintai akidah yang sesuai dengan fitrah dan jauh dari sikap ghuluw (ekstrim)… jauh dari syirik… dan jauh dari kedustaan.

Kebenaran yang sesungguhnya mulai tampak bagiku, dan aku pun bingung apakah aku harus meninggalkan agama nenek moyang dan keluargaku? Ataukah meninggalkan agama yang murni, ridha Allah dan Jannah-Nya??

Ya, akhirnya kupilih yang kedua dan aku menjadi seorang ahlussunnah wal jama’ah. Aku kemudian menghubungi akhwat yang shalihah tadi dan kunyatakan kepadanya bahwa hari ini aku ‘terlahir kembali’.
Aku seorang sunni, alias Ahlussunnah wal Jama’ah.

Akhwat tersebut mengucapkan takbir lewat telepon, maka seketika itu meleleh lah air mataku… air mata yang membersihkan sanubari dari peninggalan akidah syi’ah yang sarat dengan syirik, bid’ah dan khurafat…
Demikianlah… dan tak lama setelah kami mendapat hidayah, adik kami yang paling kecil serta salah seorang sahabatku juga mendapat hidayah atas karunia Allah.
____
(Saudari-saudari kalian yang telah bertaubat)

Sumber:http://basweidan.wordpress.com

Oleh: abuamr | Mei 31, 2009

Abu Bakar radhiallahu anhu

Gua Tsur….
Wajah Abu Bakar Radhiyallahu Anhu pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar.

Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar Radhiyallahu Anhu,

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah.”

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar ?. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedangkan, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama.

Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak kuatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, Muhammad, ya Muhammad. mereka membunuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

***
Berdua mereka berhadap-hadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kebohongan. Abu Bakar ? memandang wajah syahdu di depannya
dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan saksama. Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.

Sejeda kemudian, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar ?. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya.
Mata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar ? mengusap peluh di kening Rasulullah ?. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam hatinya, “Ya Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya.”

Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah?

Mendung di wajah Abu Bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak, “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapapun menganggumu.”

Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar ? menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, masih saja mengalun dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja, seekor binatang berbisa mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih itu.

Abu Bakar ? meringis, ketika binatang berbisa itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa binatang itu segera menjalar cepat. Abu Bakar ?  diam-diam menangis.
Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tengah berbaring. Abu Bakar ? menghentikan tangisannya, kekuatirannya terbukti, Rasulullah ? terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini,” suara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memenuhi udara Gua.

“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

“Lalu mengapa engkau meluruhkan air mata?”

“Seekor binatang berbisa, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir beliau bergerak, “Mengapa engkau tidak menghindarinya?”

“Saya kuatir membangunkan engkau dari lelap,” jawab Abu Bakar sendu.

Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan membuatnya terjaga.

Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah.

“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang sepertimu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan.” Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa meraih pergelangan kaki yang digigit binatang berbisa itu. Dengan mengagungkan nama Allah Pencipta Semesta, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Mahasuci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih memandangnya sayang.

“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia indah sepertimu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjaga. Dan, Abu Bakar ? menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menawarkan pangkuannya.

Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.
***
Kita pasti tahu siapa Abu Bakar ?. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah ?. Dari lembar sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar kepada Al- Musthafa menyemesta. Kisah tadi terjadi pada saat ia menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhijrah menuju Madinah dan harus menginap di Gua Tsur selama tiga malam. Menemani Nabi ? untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia sungguh tahu akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun karena cinta yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar, Abu Bakar dengan sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.

Dia terkenal karena teguh pendirian, berhati lembut, mempunyai iman yang kokoh dan bijaksana. Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena satu kabar, Nabi yang Ummi telah kembali kepada Yang Mahatinggi. Banyak manusia terlunta dan larut dalam lara yang sempurna. Bahkan Umar ? murka dan tidak mempercayai kenyataan yang ada. Saat itu Abu Bakar ? tampil mengingatkan seluruh sahabat dan menggaungkan satu khutbah yang masyhur, “Ketahuilah, siapa yang menyembah Muhammad, maka ia telah meninggal dunia. Dan siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tidak mati.”

Kepergian sang tercinta, tidak menyurutkan keimanan dalam dadanya. Ketiadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, jua tak memadamkan gebyar semangat untuk terus menegakkan pilar-pilar Islam yang telah dipancangkan.

Pada saat menjabat khalifah pertama, ia dengan gigih memerangi mereka yang enggan berzakat. Tidak sampai di situ munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai nabi, sang khalifah juga berlaku sama yaitu mengirimkan pasukan untuk mengajak mereka kembali kepada kebenaran. Sesungguhnya pribadi Abu Bakar ? adalah lemah lembut, namun ketika kemungkaran berada dihadapannya, ia berlaku sangat tegas dalam memberantasnya.

Abu Bakar ? wafat pada usia 63 tahun, pada saat perang atas bangsa Romawi di Yarmuk berkecamuk dengan kemenangan di tangan kaum Muslimin. Sebelum wafat, beliau menetapkan Umar ? sebagai penggantinya. Jenazahnya dikebumikan di sebelah manusia yang paling dicintainya, yaitu makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hidup Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berhenti sampai di sana, namun selanjutnya manusia yang menurut Rasulullah ? menjadi salah seorang yang dijamin masuk surga, terus saja mengharumkan sejarah sampai detik sekarang. Ia mencintai Nabinya melebihi dirinya sendiri. Tidakkah itu mempesona? Ummu Faari Rosdiana AR.
Sumber: Al Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir. Dan bahan bacaan lainnya.
(Al Fikrah No.19 Tahun X/04 Jumadil Akhir 1430 H)

dikutip dari: www.wahdahislamiyah.or.id

Oleh: abuamr | Mei 24, 2009

ETIKA MENCARI NAFKAH

Setiap orang akan berusaha memenuhi kebutuhannya, baik dengan menjadi pedagang, pekerja upahan, pegawai atau pun profesi lainnya. Namun dalam mencari nafkah, hendaklah memperhatikan dua perkara penting berikut:

Pertama: Berilmu sebelum berkata dan berbuat.
Seseorang hendaknya memahami apa saja yang wajib ia ketahui berkaitan dengan amalan yang akan dia kerjakan.

Umar bin khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah melarang para pedagang (pelaku pasar) yang tidak mengetahui hukum-hukum jual beli untuk memasuki pasar. Minimal, ia harus mengetahui hal-hal penting yang wajib ia ketahui. Contoh, sebagai pedagang, ia harus mengetahui waktu-waktu terlarang untuk berdagang atau jual beli. Misalnya, waktu akan ditunaikannya shalat Jumat. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya,

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jum’ah: 9).

Demikian juga ia harus tahu tempat-tempat larangan untuk jual beli, masjid misalnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam hadits riwayat Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang berjual beli di dalam masjid (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah).

Kemudian, seorang pedagang harus tahu barang apa saja yang tidak boleh diperjualbelikan, misalnya, minuman keras, anjing, babi, dan lain-lain.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَثَمَنَهُ وَحَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْخِنْزِيْرَ وَثَمَنَهَ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr beserta harganya, mengharamkan bangkai dan harganya, dan mengharamkan babi serta harganya.” (HR. Abu Daud)

Kemudian seorang pedagang dilarang berlaku curang dalam menimbang. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apbila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifiin: 1-3).

Selanjutnya, bagi para pegawai meraka juga harus mengetahui apa saja yang dilarang berkaitan dengan pekerjaannya. Misalnya, seorang pegawai dilarang mengambil hadiah saat tugas atau dinas, karena hal tersebut termasu ghulul (komisi) yang diharamkan.

Diriwayatkan dari Abu Humaid as Sa’idi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi para pegawai adalah ghulul.”   (HR. Ahmad. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albaani).

Kedua: Takwa
Takwa  adalah sebaik-baik bekal. Pedagang, karyawan, dan apapun propesi Anda, harus memiliki bekal takwa. Secara umum, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memperingatkan para pedagang dengan sabda beliau,

إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ

“Para pedagang itu kebanyakannya adalah orang-orang fajir.”   (HR. Ahmad, dinyatakan Shahih oleh Al Albani).

Pedagang yang fajir adalah pedagang yang tidak mengindahkan rambu-rambu syariat. Sehingga jatuh dalam larangan-larangan, seperti, menipu, khiyanat, bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuji pedagang yang jujur lagi bertakwa. Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur lagi terpercaya akan bersama para nabi, kaum shiddiq, dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi, Al Hakim dan Ad-Darimi).
Jadi kejujuran dan amanah merupakan buah dari takwa.

Sebagian orang ada yang berprinsip, carilah harta sebanyak-banyaknya meski dengan cara-cara yang haram, seperti korupsi, suap, penipuan, dan kecurangan. Jika telah terkumpul harta yang banyak, barulah berbuat baik, bersedekah dan sebagainya. Prinsip dan anggapan seperti ini jelas salah. Sebab Allah Subhaanahu Wata’ala itu baik dan tidak menerima keculi yang baik-baik.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ جَمَعَ مَالاً حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ لمَ ْيَكُنْ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ وَ كَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala darinya dan dosanya terbebankan pada dirinya.” (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib).

Pujian bagi Orang yang Mencari Nafkah
Berlomba secara sehat dalam mengais rezeki tidak tercela, asalkan dengan menempuh cara yang benar dan usaha yang halal. Bahkan beribadah sambil berusaha pun dibolehkan. Allah  Subhaanahu Wata’ala berfirman (artinya),

“Dan apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al Jum’ah:10).

Tentang makna firman Allah “Maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah”, Imam al Qurthubi—rahimahullah—menjelaskan, “Apabila kalian telah menunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi untuk berdagang, berusaha, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup kalian.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  juga pernah mengatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu, “Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan, (itu) lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan kekurangan, menjadi beban orang lain.” (Muttafaq Alaihi)

Yusuf bin Asbath berkata, ”Aku meninggalkan harta kekayaan sepuluh ribu dirham yang nanti dihisab oleh Allah, lebih aku cintai daripada aku hidup meminta-minta dan menjadi beban orang lain.”

Islam Mencela Pemalas dan Peminta-minta
Islam telah mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup kepada orang lain. Imam Ibnul Jauzi berkata, “Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja, melainkan berada dalam dua keadaan:

Pertama: Menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakkal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan buat orang lain dan keluarga berada dalam kesusahan.

Kedua: Demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa kecuali orang yang hina dan gelandangan. Sebab, orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakkal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Boleh jadi seseorang tidak memiliki harta, tetapi masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha.

Rasulullah memeberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri dari meminta-minta.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ تَكَفَّلَ لِيْ أَنْ لاَ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْأً أَتَكَفَّلَ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلْتُ أَنَا فَكَانَ لاَ يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْأً

“Barangsiapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apa pun kepada seseorang, maka aku akan menjamin buatnya surga.” Aku berkata, ”Saya!” Maka ia selama hidupnya tidak pernah meminta minta kepada seseorang suatu kebutuhan apa pun.” (HR. Ahmad, dan selainnya).

Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, semangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam memenuhi kebutuhan, dan rajin bekerja. Semua itu akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk nafkah keluarga, memelihara masa depan anak agar kelak dapat hidup mandiri.

Seorang muslim bukanlah pemalas yang menjadi beban orang lain. Bukan pula pengemis—berbadan sehat dan tanpa cacat—yang menjual harga dirinya, mereka adalah manusia tercela dan dibenci oleh Islam. Ditegaskan dalam sebuah hadist dari Abdullah ibnu Umar, Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ


“Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Agama Islam mengajak ummatnya bersikap mandiri dalam hidup. Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan doa agar kita berlindung dari sifat malas, lemah, tidak berdaya, pengecut, bakhil dan menjadi beban orang lain.

Berusaha dengan sungguh-sungguh sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana sabda beliau,

“Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kedapa Allah dan janganlah bersikap lemah. Jika sesuatu terjadi pada dirimu, maka jangan katakan, ”Seandainya aku melakukan hal ini dan itu, maka pasti begini”, namun katakanlah, “Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, maka Dia kerjakan”. Karena kata “seandainya” itu membuka pintu peluang bagi setan.” (HR Muslim).

Sahl bin Abdullah at-Tutsari berkata, ”Barang siapa yang merusak tawakkal, berarti telah merusak pilar keimanan. Dan barangsiapa yang merusak pekerjaan, berarti ia telah membuat kerusakan dalam sunnah.” Wallahu Al Wasi’ Ar Razzaq.Abu Turob Syandri Ad-Duury (Al Fikrah No.18 Tahun X/26 Jumadil Ula 1430 H)

SUMBER: Wahdah.or.id

Pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang mengklaim Yerusalem sebagai ibukota abadi bagi Israel dikecam oleh Hamas dan Prancis.Hamas menilai pernyataan Netanyahu sebagai bentuk agresi Israel terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa. Sedangkan negara Prancis menuding Netanyahu telah merusak proses perdamaian dengan Palestina dengan pernyatannya itu.

Juru Bicara Hamas, Yousef Farhat mengatakan, pernyataan Nenyahu membuktikan bahwa Zionis tidak akan berhenti untuk memerangi rakyat Palestina. Untuk mencapai tujuannya, Israel telah melakukan berbagai upaya antara lain membujuk negara-negara Arab agar mau mengubah tuntutannya yang termaktub dalam Inisiatif Perdamaian Negara-Negara Arab. Dalam inisiatif tersebut, negara-negara Arab menuntut Israel untuk mundur dari Al-Quds Timur dan mengembalikan hak kembali para pengungsi Palestina yang diusir Israel saat pembentukan negara ilegal Israel.

Farhat menegaskan bahwa hak kembali para pengungsi Palestina adalah hak rakyat Palestina yang sakral. “Hamas tidak akan pernah menerima jika para rakyat Palestina harus menjadi pengungsi di negara lain, mereka harus dijinkan kembali ke tanah air mereka. “Ini adalah hak yang sakral yang tidak bisa diabaikan atau dihapus begitu saja,” tandas Farhat dari Gaza Tengah.

Jubir Hamas itu juga mengecam Presiden AS Barack Obama yang mendukung solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Solusi dua negara hanya memberi kesempatan bagi Israel untuk mempertahankan entitas Zionis di tanah Palestina. “Obama sama saja dengan pendahulunya, meski ia berusaha tampil sebagai sosok yang seolah-olah memiliki solusi ajaib untuk konflik Timur Tengah, tapi Obama juga menolak hak kembali para pengungsi Palestina,” tukas Farhat. Apalagi dalam pidatonya di depan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), lembaga lobi Yahudi paling berpengaruh di AS, Obama sudah menegaskan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibukota Israel yang tidak dibagi-bagi.

Sementara itu, Prancis lewat kementerian luar negerinya juga mengecam pernyataan Netanyahu soal Yerusalem yang dianggap telah merugikan proses perdamaian. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Frederic Desagneaux mengatakan, pernyataan Netanyahu akan makin menguatkan kecurigaan bahwa Israel memang tidak berniat berdamai dengan Palestina.

Desagneaux merujuk pada kesepakatan “Peta Jalan Damai” yang mengharuskan Israel maupun Palestina melakukan negosiasi untuk menentukan status Yerusalem. Dunia internasional tidak pernah mengakui klaim Israel bahwa Yerusalem adalah ibukota negara Yahudi, karena Israel merampas kota Yerusalem dari Palestina pada saat Perang Arab-Israel tahun 1967. Palestina lebih berhak atas kota Yerusalem yang akan menjadi ibukota bagi negara Palestina di masa depan.

Oleh: abuamr | Mei 22, 2009

SAUDARIKU, JANGAN SEBARKAN FITNAHMU!!!

Semua perasaan condong kepadanya, perbuatan haram pun terjadi karenanya. Mengundang terjadinya pembunuhan permusuhan disebabkan karenanya. Sekurang-kurangnya ia sebagai insan yang disukai di dunia. Kerusakan mana yang lebih besar daripada ini? (Al Imam Al Mubarakfuri rahimahullah fi At Tuhfah Al Ahwadzi 8/53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa fitnah (baca ujian) yang paling besar khususnya bagi kaum laki-laki adalah wanita, bahkan wanita merupakan salah satu sumber syahwat sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita … .” (QS. Ali Imran : 14). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga memberikan peringatan akan bahaya fitnah wanita, diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari shahabat Abu Said Al Khudri radliyallahu ‘anhu, beliau bersabda : “Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah wanita.”

Keterangan ayat dan hadits diatas telah memberikan gambaran akan besarnya ujian yang dihadapi bagi kaum adam kepada persoalan wanita, kalau dilihat secara historis dua keterangan diatas ditujukan khusus kepada para sahabat yang juga tentunya merupakan peringatan bagi mereka akan fitnah ini, padahal mereka adalah manusia-manusia pilihan dan orang yang paling bersih hatinya diantara ummat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dengan demikian kita dengan kadar keimanan yang jauh berbeda dengan para sahabat dan terlebih lagi diperhadapkan dengan zaman yang begitu banyak ujian termasuk fitnah wanita, tentu lebih perlu mawas diri, sebab sangat jarang yang bisa selamat dari fitnah ini kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Kebenaran akan wahyu ilahi itu telah diperlihatkan kepada kita semua akan bahaya fitnah wanita yaitu kasus yang menimpa ketua KPK Antasari Azhar dengan Nasruddin direktur Rajawali Banjaran yang menimbulkan dampak yang besar, nyawa yang melayang, karir yang hancur, nama baik yang menjadi luntur dan kepercayaan pun hilang.

Wanita dimata syariat memliki kedudukan yang sama dengan pria dan inilah bentuk keadilan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

1. Persamaan dalam hal penciptaan dengan laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 21)
2. Persamaan dalam mendapatkan pahala atas amal shalih. Allah berfirman : “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain … .” (QS. Ali Imran : 195). Allah juga berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik … .” (QS. An Nahl : 97)
3. Hak untuk mendapatkan perlakuan dan pergaulan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Apabila kamu mentalak istri-istrimu lalu mereka mendekati akhir iddahnya maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf pula. Janganlah kamu merujuki mereka untuk memberi kemudlaratan karena dengan demikian kamu menganiaya mereka … .” (QS. Al Baqarah : 231). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : “ … dan bergaullah dengan mereka secara patut … .” (QS. An Nisa’ : 19).

Sungguh pada setiap diri wanita berpotensi menimbulkan fitnah, Perlu ditegaskan bahawa fitnah wanita tidak mesti datang dari arah wanita itu saja, godaan nafsu lah yang mendorong bagi seorang laki-laki untuk mendekati wanita dan melakukan maksiat. Oleh karena itu, wanita bukanlah musuh yang perlu dijauhi, akan tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita wajib bagi masing-masing untuk membentengi diri agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan dengan jalan menjaga ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dimaksud dengan taqwa disini adalah menjalankan semua perintah Allah yang sifatnya wajib dan menjauhi sekuat kemampuan kita terhadap semua yang diharamkanNya, dengan menjaga kataatan kepada Allah akan memberikan pengaruh yang kuat pada keimanan dan orang yang memiliki keimanan yang kuat, pasti tidak akan melakukan perbuatan yang tercela. Beberapa hal yang telah diajarkan oleh syariat yang mulia ini agar kita terselamatkan dari fitnah ini yaitu:

1. Adanya kewajiban bagi laki laki dan wanita untuk menahan pandangan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya” (QS 24:31) dan “Katakanlah kepada para wanita beriman agar mereka menjaga pandangannya” (QS 24:32). Diantara penyebab utama fitnah itu adalah mata sehinggah Allah menyuruh kita untuk tidak melihat kecuali hal-hal yang memang dibolehkan oleh Syariat.
2. Adanya larangan untuk berdua-duaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri/berduaan) dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi dari shahabat Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhuma) dalam riwayat lain Nabi bersabda : ” Tidak halal laki-laki dan wanita berdua-duan karena pihak ketiganya adalah syaitan.” Perbuatan zina tidaklah dimulai kecuali berdua-duan antara laki-laki dan wanita, dan tidak terjadi perzinahan kecuali ditempat yang sunyi lagi tertutup dari pandangan manusia.
3. Allah menetapkan beberapa syariat yang dikhususkan bagi wanita sebagai bentuk kemuliaan terhadapnya, yang mana ketika syariat itu dilanggar maka ialah yang merupakan penyebab munculnya fitnah bagi laki-laki diantaranya:

* Syariat melarang mereka bertabaruj, yaitu berhias di hadapan selain mahramnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “ … dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu … .” (QS. Al Ahzab : 33)
* Mereka dilarang berbicara dengan suara yang mendayu-dayu yang dapat mengundang fitnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “ … maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)
* Mereka dilarang keluar rumah dengan memakai wangi-wangian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian lewat di suatu kaum supaya mereka mendapatkan bau harumnya maka ia telah berzina.” (HR. Ahmad dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari radliyallahu ‘anhu)
* Syariat memerintahkan wanita untuk tinggal lebih banyak di rumahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian … .” (QS. Al Ahzab : 33).

Sama sekali ini tidak berarti dzolim terhadap wanita, atau penjara, ataupun mengurangi kebebasannya. Allah lebih mengetahui kemaslahatan hamba-Nya. Sesungguhnya dengan tinggalnya para wanita di rumah-rumahnya maka ia dapat mengurusi urusan rumahnya, menunaikan hak-hak suaminya, mendidik anaknya, dan memperbanyak melakukan hal-hal baik lainnya, dan hukum asal keluar rumah bagi wanita adalah perkara yang dibolehkan bagi syariat kecuali jika didalamnya ada maksiat.

Allah telah menentukan bahwa ada perkara tertentu yang menarik perhatian di antara lelaki dan wanita. Dan untuk itu, Allah juga yang mengatur bentuk hubungan yang perlu dilakukan, agar di antara mereka tidak timbul perkara-perkara yang tidak diingini. Walaupun demikian, ramai juga manusia yang melanggar batasan tersebut sehingga mereka tertunduk malu kerana keterlanjuran yang mereka lakukan. Lelaki yang tidak mampu mengawal dirinya daripada daya tarik yang ada pada wanita, pasti mudah untuk melakukan perkara-perkara yang menjadi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akhirnya kita berdoa : “Wahai, Rabbku! Walaupun dosaku sangat besar, namun aku yakin bahwa ampunan-Mu lebih besar lagi, engkaulah yang menggenggam hati maka tetapkanlah hati ini diatas agamamu dan ketaatan kepadamu sucikanlah jiwa kami dari penguruh-penguruh akan keburukan fitnah wanita serta berikanlah kekuatan dan keistiqomahan dalam menjaga dan melaksana semua aturanmu.” Wallahu waliyuttaufiq

SUMBER : www.wimakassar.org

Sekitar 80 akademisi dari Spanyol, Tunisia, Aljazair, Maroko, Prancis, dan beberapa negara lainnya berdiskusi dalam sebuah forum internasional tentang umat Islam yang secara kolektif diasingkan dari Granada 400 tahun lalu.

Pada 1492, setelah jatuhnya Kota Granada-Andalusia, sebagian besar umat Islam diasingkan dari bumi Islam, Andalusia (Spanyol). Sementara itu sisanya dipaksa masuk agama Kristen. Tidak cukup dengan hal demikian, umat Islam pun mengalami siksaan yang memilukan setiap tahunnya, yaitu dibakar hidup-hidup.

Saat ini, banyak umat Islam Spanyol yang menyadari bahwa leluhur mereka merupakan muslim Andalusia.

9 April 2009 lalu genap sudah 400 tahun terjadinya salah satu gerakan pengusiran terbesar sepanjang sejarah, yang mengeluarkan muslim Andalus yang telah hidup di bumi tumpah darahnya selama 8 abad, sekaligus juga membangun peradaban Islam yang gemilang dan menjadi salah satu peradaban yang paling penting.

Para sejarawan memperkirakan jumlah umat Islam yang diusir ada sekitar 250 ribu–350 ribu jiwa. Hal itu mengindikasikan bahwa sebagian mereka pergi ke pantai utara Maroko dan sisanya pergi ke Tunisia.

Seorang penulis kenamaan Spanyol Juan Guytesillo menyatakan peristiwa tersebut sebagai pengusiran sekaligus pemusnahan etnis dan agama yang pertama kali terjadi di Eropa.

Penulis Spanyol lainnya, Emilio Paistorius mengatakan bahwa pengusiran bangsa Moor (muslim) dari Andalusia merupakan kejahatan terbesar kedua. Sedangkan kejahatan terbesar yang pertama adalah pencurian buku-buku milik kaum muslimin oleh Ratu Isabella, yang kemudian dibakar di depan pintu gerbang ar-Raml (Bab al-Raml), Granada, kecuali buku-buku kedokteran Islam.

Islam bercokol di semenanjung Iberia (Andalusia, kini Spanyol, Portugal dan Andorra) selama kurang lebih 8 abad (8–16 M). Selama rentan waktu itu pula, Islam mampu menyulap semenanjung yang semula daerah pinggiran itu menjadi salah satu pusat peradaban dunia dan sentral ilmu pengetahuan sejagat. Ribuan cendikiawan, jutaan jilid buku, dan ratusan bangunan bersejarah Arab-Islami mengabadikan kisah kegemilangan peradaban Islam di bumi Andalusia itu.

Dan dari Islam-Andalusia pula, bangsa Eropa (kembali) mengenal ilmu pengetahuan hingga akhirnya mengilhami abad pencerahan, aufklarung, renaissance, dan kebangkitan di benua itu.

Transmisi ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang beralur dari Andalusia ke kota-kota Eropa lainnya. Filsuf Inggris abad pertengahan Roger Bacon menyatakan, kebangkitan Eropa sangat berhutang kepada peradaban Islam Andalusia. (wb/L2-AGS, Kairo)

Ketua Dewan Syura Jamaah Ahli Bait (Ijabi) Indonesia Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat (JR) tampil Sebagai pemateri tunggal dalam Dialog Muballigh dengan tema : “Syiah dalam Timbangan Alquran dan Sunnah”. Kamis Malam, 1 Januari 2009 di hotel horison Makassar.

Dedengkot Syiah Indonesia, yang biasa disapa Kang Jalal ini, memaparkan makalahnya dengan judul “Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as.?”.

Acara yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi dan Informasi Islam (LSII) Makassar , yang diketuai Syamsuddin Baharuddin dan didukung ICC dan Ijabi ini dihadiri tiga asatidzah dari Wahdah, yakni Ust. M. Said Abd.Shamad, Ust. M. Ikhwan AJ, Ust. Rahmat AR dan beberapa ulama, cendekiawan dan muballigh Kota Makassar, di antaranya Prof. Dr. Rusydi Khalid, Prof.Dr. Ahmad Sewang, Prof.Dr. Qasim Mathar, Fuad Rumi, Das’ad Latif, DR.Mustamin Arsyad, MA .

Dalam sesi kedua, dialog yang dipandu oleh pengamat politik Islam UIN DR.Hamdan Juhannis ini, Ustadz Rahmat mendapat kesempatan pertama, mengutarakan argumen.

Ustadz yang merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Konsultasi Syariah (LKKS) Wahdah Islamiyah ini, sebelum mengomentari makalah JR, mengatakan bahwa Ahlus Sunnah tidak pernah membenci Ahlul Bait, Ahlussunnah sangat paham terhadap Sunnah dan menjunjung tinggi wasiat Rasulullah untuk mencintai Ahlul Bait.

Dari makalah tersebut, Ustadz memberikan komentar tentang buku acuan yang dituliskan JR, “ini adalah suatu bentuk pengelabuan terhadap data, dalam pembicaraan tentang buku-buku yang diambil acuan ternyata tidak seperti apa yang dituliskan atau kurang menyimpulkan secara sempurna”.

Pembatasan Ahlul Bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain
Misalnya, tentang pembatasan ahlul bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain yang berkenaan dengan Surah Al Ahzab:33.

Disebutkan dalam makalah JR:
“Masih dari Ummu Salamah: Ayat ini-Sesungguhnya Allah…-turun di rumahku. Aku berkata:Ya Rasululah, bukannkah aku termasuk Ahlulbait?Beliau bersabda:Kamu dalam kebaikan. Kamu termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.. Ia berkata Ahlul bait adalah Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain. Kata Ibn Asakir:Hadits ini Shahih (Al Arbain fi Manaqib Ummil Mu’minin 106). Hadits-hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa ahlulbait itu tidak termasuk ke dalamnya istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Ketua Departemen Dakwah DPP Wahdah ini sambil memegang laptop yang dilengkapi dengan program Maktabah Syamilah (kumpulan ribuan kitab), menegaskan bahwa adanya pembatasan tersebut di atas tidak sesuai dengan apa yang ada dalam syarah Shahih Muslim yang bekenaan dengan hal tersebut. Ketika kita kembali kepada surahAl Ahzab:33, ayat ini justru turun kepada Istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hadits yang menyebutkan pembatasan di atas sebenarnya tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Zaid Ibnu Arqam Radhiyallalu ‘Anhu yang disebut juga dalam penjelasan JR sebelumnya.

“Said Ibnu Arqam Radhiyallalu ‘Anhu ditanya tentang siapa itu Ahlul Bait, apakah hanya khusus Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain? kata beliau Radhiyallalu ‘Anhu, bahwa istri-istri Nabi adalah ahlul bait beliau, kemudian siapa yang diharamkan memakan sedekah, beliau mengatakan alu ja’far, alu atiq, alu Abbas (HR.Muslim). Menurut Ustadz Rahmat bahwa semua itu dari keturunan bani Abdul Muttalib, dan tentu termasuk Istri-istri Nabi, sebab ayat tersebut memang turun untuk mereka.

Dari hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa JR hanya mengambil hadits yang mendukung pemahaman Syiah, tanpa melihat hadits shahih yang lainnya, sehingga mengambil kesimpulan pembatasan ahlul bait yang keliru.

Masalah Kepemimpinan Setelah Rasulullah jatuh ke tangan Ali Radhiyallalu ‘Anhu
Contoh kedua, tentang Ayat Wilayah (kepemimpinan) yang tercantum dalam makalah. Disebutkan pemimpin dalam alquran disebut ‘waliy”. Al Quran sudah memberikan petunjuk siapa yang sepatutnya dijadikan pemimpin setelah Allah dan RasulNya: Sesungguhnya pemimpin kamu itu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk (Al Maidah:55). Berkata Ibn Abbas, Al Suddi, Utbah bin hakim dan tsabit bin Abdullah:yang dimaksud dengan orang-orang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib. Seorang pengemis lewat (meminta tolong) dan Ali sedang rukuk di Masjid. Lalu Ali menyerahkan cincinnya (tafsir al Tsa’labi 4:80).

Di antara rujukan yang dipakai JR dalam menetapkan sebab turunnya ayat ini adalah Tafsir Ibnu Katsir, namun setelah diperiksa ternyata Ibnu Katsir sendiri melemahkan riwayat yang menyatakan ayat ke 55 ini turun karena Ali ibn Abi Thalib dan menegaskan bahwa sebab turunnya ayat-ayat al-Maidah ini adalah untuk Ubadah ibn as-Shamit Radhiyallalu ‘Anhu.

Sebelumnya, Ibnu Katsir menjelaskan makna (wa hum raki’un), bahwa kalimat ini bukan menunjukkan keadaan bagi orang yang berzakat sebab jika demikian berarti berzakat dalam keadaan ruku’ lebih afdhal dari berzakat tidak dalam keadaan ruku’ dan tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan akan hal itu. Namun sayang JR tidak menyebutkan komentar Ibnu Katsir untuk sebab turunnya ayat ini, metode penetapan yang dipakai menyiratkan bahwa Ibnu Katsir sepakat dengan mazhab ini padahal itu jauh panggang dari api. (Tafsir Ibnu Katsir, Qs. Al-Maidah:55)

Tidak Mengakui Kedudukan Hadits perintah untuk kembali kepada “Al Qur’an dan Sunnahku”.
Terakhir, komentar Ustadz Rahmat, tentang hadits kembali pada Al Quran dan Assunnah yang didhaifkan. Sayang JR tidak kembali ke perkataan al-Albani sebagaimana kuatnya, ia merujukkan hadits al-Qur’an dan al-Ithrah ke beliau, padahal al-Albani menshahihkan keduanya. (Hadits al-Kitab dan Sunnahku dishahihkan dalam Shahih at-Targib wat Tarhib, Hadits No. 40)

Hadits Itrati kalau dilanjutkan dalam As-Shahihah al-Albani sangat jelas mengatakan orang-orang Syiah menggunakan hadits ini untuk membenarkan mazhab Rafidhah dan hal itu sama sekali tidak benar, tidak seperti itu, beliau bantah dalam kitab tersebut, bahkan dalam mukaddimah kitab tersebut.

Kitab lain yang dipakai oleh JR dalam membenarkan mazhabnya adalah Kitab as-Shawaiq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajaral-Haitami, justru kitab itu untuk membantah Syiah, judulnya adalah: as-Shawaiq al-Muhriqah fi ar-Raddi ala Ahli ar-Rafdhi wa ad-Dhalali wa az-Zandaqah , ini bantahan Syiah yang “menuhankan” Ahlul Bait, namun sayang JR tidak jujur dalam mengambil pendapat-pendapat penulis.

“Seandainya ada waktu mengecek semua riwayat ini (dalam makalah JR), saya yakin bahwa riwayat-riwayat dalam buku tersebut, tidak seperti yang diinginkan Kang Jalal dalam Istidlalnya”, tegas Ustadz menutup komentarnya.

Pada kesempatan kedua, Ustadz Muh.Said Abd.Shamad, Lc mengutarakan komentarnnya. Ketua Dewan Syariah WI ini diawal pembicaraannya mengusulkan agar pembicaraan ini tuntas, “ Biar sampai jam 1 malam saya siap, karena kita mencari kebenaran”, katanya.

Ustadz juga sangat menyesalkan kepada panitia karena makalahnya tidak dibagikan sebelum hari H, sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengkritisi.

Mencela dan Melaknat Sahabat Amr bin Ash
Pada sisi yang lain, Ustadz mengingatkan tulisan Supha Atana pada konferensi Syiah di Makassar beberapa waktu lalu, yang berjudul “Mahzab Cinta dan Akhlak” yang banyak memuji JR sebagai Ulama dan Cendikiawan yang paling intens membicarakan dan menganjurkan Mahzab Cinta dan Akhlak. Supha Atana yang sekarang Pimpinan Iran Corner Unhas mengatakan juga bahwa andaikata tidak karena cinta dan akhlak maka setiap hari kita akan mengkafirkan orang lain.

Dan dalam forum malam ini JR mengemukakan hadits yang menurutnya sudah banyak dilupakan oleh kaum muslimin, yaitu bahwa darah kamu, harta kamu dan kehormatan kamu diharamkan dan tidak boleh dirusak . Ungkapan di atas sangat bertolak belakang sekali dengan tulisan JR dalam bukunya terbitan 2008 yang lalu yang sangat mempermalukan dan mengkafirkan Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam buku tersebut JR menyebut Sahabat Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu sebagai anak haram yang tidak diketahui bapaknya secara pasti dan dia sangat banyak dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapa yang dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berarti dilaknat oleh Allah.

Ternyata kitab rujukan JR adalah kitab golongan Syiah yang memang sangat membenci Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sangat banyak memalsukan keterangan-keterangan dengan dalil-dalil yang lemah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga Imam Syafii mengatakan bahwa golongan yang paling berani dan paling banyak membuat kepalsuan dan dusta ialah golongan Syiah.

Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi). Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Kedua anak al Ash (termasuk Amr bin Ash) adalah orang berimannya Qurais. Beliau masuk Islam dalam perjanjian Hudaibiyah kemudian ditugaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin tentara Islam dalam perang Dzat al salasil dan selanjutnya ditugaskan sebagai penguasa di Oman. Beliau terkenal sebagai Panglima Islam yang banyak merebut daerah-daerah baru termasuk Palestina dan sekitarnya serta negeri Mesir, maka beliau ditunjuk sebagai Gubernur di Mesir oleh Muawiyah RA pada tahun 38 H. Beliau meriwayatkan 39 hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (lihat Nushatul Muttaqin Syarah Riyadul Shalihin Hal.1324). Oleh karena itu Ustadz Said meminta JR mempertanggung jawabkan tulisannya dengan dalil yang Shahih.

Mengkafirkan Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu
Selanjutnya, JR menulis tentang Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia itu bukan saja fasik bahkan Kafir menurut riwayat versi Syiah. Ustadz Said sangat tersinggung akan hal tersebut.

Kata Ustadz, Muawiyah, iparnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan penulis wahyunya. Mungkinkah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih orang yang berjiwa kafir sebagai Penulis Wahyu? Juga Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan sesudahnya Khalifah Utsman juga menunjuk sebagai Gubernur di Syam. Bahkan beliau menjabat sebagai Khalifah sesudah Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu sekitar 20 tahun. Beliau meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebanyak 130 (lihat Nushatul Muttaqin Syarah Riyadul Shalihin Hal.1330).

Dan ternyata Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu telah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ya Allah jadikanlah iya orang yang memberi petunjuk, orang mendapat petunjuk dan berilah petunjuk manusia dengannya (Hadits Shahih riwayat at Tirmidzi). Begitu banyak kelebihan Muawiyah yang tidak dapat disebut satu per satu dapat kita lihat diantaranya dalam kitab al ‘awashim min al qawasim hal.202-210 karangan al Qadhi Abi Bakr al Arabi

Bukan itu saja bahkan JR menulis dari sumber yang sama bahwa Muawiyah itu tidak senang mendengar nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu disebut dalam Adzan dan menganggapnya sebagai tanda bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat ambisius karena tidak senang kecuali namanya digandengkan dengan nama Allah Rabbul Alamin.

Beginikah Mahzab cinta dan akhlak?dan beginikah menjaga kehormatan kaum muslimin?

“Kami, Pak Jalal, sangat sakit hati kalau keluarga kami dicela, apalagi dikatakan anak haram, dan dikafirkan. Tapi kami lebih sakit hati lagi kalau Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikatakan anak haram, tidak ditau orangtuanya, dikatakan kafir”, Ungkap Ustadz dengan nada sedikit tinggi.

Lanjut Ustadz, Kalau tulisan JR yang berdasarkan keterangan yang lemah tersebut diterima, berarti kita mendustakan al Quran dan Hadits yang Shahih yang sangat banyak memuji para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan juga dapat berdampak kita meragukan al Qur’an yang telah dikumpulkan oleh para Sahabat dan juga menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mampu mendidik para Sahabatnya dengan baik. Naudzu Billahi min Dzalik dan sangat mengherankan JR sampai hati menulis tentang Sahabat dengan secara keji.

Ustadz sempat membacakan surah al Fath ayat 29: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir”, Imam Malik mengatakan, orang-orang Syiah yang benci terhadap Sahabat adalah orang kafir berdasarkan ayat ini.

Fathimah Melaknat Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu (Pada akhirnya dikatakan Rasulullah dan Allah Melaknat Abubakar)

Dalam buku kecil yang memuat ceramah Asyura, JR mengatakan bahwa Fatimah Radhiyallahu ‘Anha telah mengutuk Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu karena tidak memberikan kepadanya harta peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal tersebut dibenarkan oleh JR berdasarkan hadits bahwa Fathimah itu adalah bahagian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang menjadikan Fathimah murka berarti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga akan murka dan melaknatnya dan apa yang dilaknat oleh Rasul berari dilaknat oleh Allah. Lalu JR membaca ayat surat al ahzab ayat 58.

Ustadz Said mengatakan bahwa sebenarnya Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu tidak memberikan harta peninggalan tersebut karena berdasarkan hadits yang shahih bahwa para Nabi itu tidak diwarisi, harta yang dia tinggalkan adalah menjadi sedekah (Hadits Bukhari Muslim).

Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Fathimah telah memaafkan Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu diahir hayatnya, setelah Abubakar datang menjenguknya dan meminta ridhanya (Hadits Riwayat Baihaqi dengan sanad yang kuat, lihat albidayah wa al Nihayah Juz V Hal.253)

Di akhir sesi dialog, Ustadz Said dengan lantang menantang JR untuk berdiskusi pada waktu yang lain dan menegaskan bahwa Sunni-Syiah tidak akan mungkin dapat dipertemukan. Alasannya karena Sunni sangat menghormati Sahabat Abubakar, Umar, dan Ustman dan Ali Radhiyallahu ‘Anhu Ajmain, sedangkang Syiah hanya mengakui Syaidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan sangat mencerca tiga sahabat sebelumnya serta menganggap bahwa melaknat seluruh Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selain ahli bait dan pengikutnya, sebagai ibadah.

Lain halnya dengan Ustadz Ikhwan yang menjadi penanggap berikutnya, Ustadz memulai dengan sedikit nostalgia pada masa SMU, terkesan dengan buku karangan JR yang berjudul Islam Alternatif, “lama-kelamaan saya menyadari barangkali yang dimaksud JR Islam alternatife itu adalah Syiah”, ungkap Ustadz dengan nada bertanya.

Komentar Wakil Ketua Umum DPP WI ini selanjutnya, tentang ketertarikannya dengan ungkapan JR mengenai orang Syiah yang ahlul wara wal wafa, orang yang obyektif dan adil dalam memberi penilaian. Ustadz sedikit terusik, dikatakan JR dalam bukunya bahwa Imam Adzahabi menulis Mizanul I’tiqadi untuk memberi komentar kepada perawi dhaif.

Lanjut Ustadz, justru dalam mukaddimah Mizanul I’tiqadi diungkapkan bahwa, Imam Adzahabi mengatakan “saya tidak mengatakan semua yang saya sebutkan dalam buku saya, adalah perawi-perawi dhaif, tetapi orang-orang yang dianggap dhaif”. Maka dapat dikatakan itu adalah mizan (timbangan), apakah benar itu dhaif atau tidak.

“Makanya saya semakin terusik lagi ketika sempat membaca kitab al Mustafa pada bagian masa muda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Pak Jalal di situ mengomentari seseorang yang sangat terkenal, Sufyan Ats Sauri disebut :yudallis (mengelabui) wayaktubu anil kadzabin (pembohong). Saya merasa terheran-heran karena sebelumnya saya pernah membaca tahzibut tahdzib Ibnu hajar, sebagian ulama mengatakan bahwa beliau adalah amirul mukminin fil hadits. Di buku Mizanul I’tidal Di buku Mizanul I’tidal, ternyata Sufyan Ats Tsauri adalah al Hujjah Ats Sabtu (Sumber yang dipercaya), ada kata yang tidak dimasukkan kang jalal, saya tidak tahu apakah itu kutipan langsung atau kutipan antara dari kitab sirah an nabi al a’dham.

Dikatakan bahwa: Laa ‘ibrata liman qala innahu yudallis (mengelabui) wayaktubu anil kadzabin, yang artinya : tidak ada atau tidak dianggap (ini kata yang tidak dimasukkan), orang yang mengatakan bahwa ats Tsauri melakukan tadlis dan menulis dari orang-orang dusta. Sekali lagi saya tidak tahu dan saya tidak ingin menghakimi di sini apakah Pak Jalal menyengajakan diri mengutip atau tidak membaca”, terang Pengurus MUI Kota Makassar ini.

“Saya berharap bahwa kita dapat berjumpa di dalam media yang lebih tepat, dalam dialog yang lebih sehat dan dalam ruang yang lebih obyektif”, tutup Ustadz dalam komentarnya.`

Senada dengan Asatidzah Wahdah, Dr.Hj.Amrah Kasim, MA, Dosen UIN Alauddin Makassar di awal komentarnya menyatakan penolakannya terhadap ajaran Syiah. Lulusan Al Ahzar Kairo ini pernah menanyakan ke Ulama-ulama Al Ahzar, kenapa referensi Syiah tidak diajarkan di kampus yang dikenal menara ilmu ini. Lalu Ulama-ulama Al Ahzar menjawab: “Ya Binti, nahnu nuhibbu Rasulallah wa Ahlal Bait, wa lakin laa natasyayya’ ”, disambut teriakan Alllahu Akbar dari beberapa peserta, artinya: kami mencintai Rasulullah dan Ahlul Bait dan kami tidak bersyiah. “Sikap saya seperti itu juga, saya mencintai Rasulallah, Ahlul Bait tapi saya tidak bersyiah”, tegas yang mengaku Azhary ini di dalam forum itu.

Kesalahan Fatal Menerjemahkan Penggalan Surah Al Maidah:55 dan Surah Al Ahzab:33
Yang kedua, yang dikomentari Direktur Pesantren Putri IMMIM Makassar ini setelah menyimak buah-buah pikiran JR. Kesalahan fatal JR dalam penerjemahan surah al Maidah:55 dalam penggalan ayat, …innama waliyyukum…. “ , suatu kekeliruan menerjemahkan innama menjadi sesungguhnya. “innama itu, tidak bisa diterjemahkan sesungguhnya di situ, itulah salah satu perilaku orang Syiah dalam membelokkan makna ayat untuk kepentingannya”, jelas Istri Doktor Tafsir Al Ahzar, DR.Mustamin Arsyad MA ini.

Berikutnya, yang fatal sekali, tidak dimasukkannya Istri Nabi dalam Ahlul Bait. “Keluarnya zaujati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Ahlul Bait, saya pikir ini adalah suatu kekeliruan besar (disambut ucapan Allahu Akbar dari Ustadz Said). Saya banyak mengkaji buku-buku Syiah, memang metodenya sama, banyak membelok-belokkan makna ayat “, tegasnya lagi.

Sementara itu, JR dalam jawabannya mengakui kesalahannya, termasuk tanggapannya terhadap Dr. Hj. Amrah, tentang kesalahannya dalam menerjemahkan Al Qur’an surat Al Maidah: 55, JR minta maaf.

Sebagai kesimpulan dari dialog tersebut, JR yang terpojok dialog ini akhirnya berkilah kalau dirinya bukan syiah, “Saya cinta ahlul bait, dan Saya tidak jadi Syiah, (lalu dilanjut) tapi Syiah menurut definisi saya, dan itu definisi yang diajarkan oleh para iman ahlul bait kami,” kilah JR. Meskipun dari ucapan itu dapat dipahami hanyalah kedok semata, sebab selama ini JR selalu mengagung-agungkan mazhab Syiah, termasuk banyak mengangkat referensi syiah, bahkan JR dianggap sebagai pelopor Syiah di Indonesia.

Sebagai penguat, kami kutip dua sms dari salah seorang tokoh dan pengamat Islam yang hadir malam itu ke asatidzah Wahdah:

“TADI MALAM, IJABI LAKSANA MULAI MENGGALI LUBANG KUBURNYA SENDIRI. MESKIPUN TAMPAKNYA MEREKA TDK MENYADARI DAN BOLEH JADI JUSTRU SEBALIKNYA.”

“ ALHAMDULILLAH. SAYA TERINGAT, SEBGMNA KETIKA BUKU ISLAM ALTERNATIF DITIMBANG O/ORG DEWAN DAKWAH, KETIDAKJUJURAN (KELICIKAN?) KG JALAL SEMALAM, KEMBALI TERULANG-PAMER REFERENSI. TAPI MENGUTIP SEC TIDAK FAIR. SMOGA KG JALAL MAU MENYADARINYA. WALLAHU A’LAM”

Kepada para pengagum dan pengikut JR agar tidak menelan mentah-mentah pemikiran JR, yang banyak mengambil dalil dan pendapat Ulama Ahlussunah secara sepotong-potong yang “menguntungkan” mazhabnya sendiri, namun perkataan yang membantah mazhab tersebut dari ulama yang sama tidak akan dikutip bahkan meskipun datang dalam konteks dan rujukan yang sama. Semoga Allah menunjuki kita semua jalan yang lurus dan mengembalikan ke jalan lurus itu orang-orang yang tersesat dan menyimpang.
sumber: wahdah.or.id

Oleh: abuamr | April 23, 2009

Tentang Riya’

Oleh :
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

“Riya’ ialah berbuat baik karena orang lain”
Firman Allah Ta’ala (artinya):
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Sembahan kamu adalah Sembahan Yang Esa.’ Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia berbuat syirik sedikitpun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.” (Al-Kahfi: 110)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman:
“Aku adalah Sekutu Yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya itu.” (HR Muslim)
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maukah kamu aku beritahu tentang sesuatu, yang menurutku, lebih aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al-Masih Ad-Dajjal. Para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliaupun bersabda: “Syirik tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan shalat, dia perindah shalatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR Imam Ahmad)
Al-Masih Ad-Dajjal ialah seorang manusia pembohong terbesar yang akan muncul pada akhir zaman, mengaku sebagai Al-Masih bahkan mengaku sebagai tuhan yang disembah. Kehadirannya di dunia ini termasuk di antara tanda-tanda besar akan tibanya hari Kiamat. Sedang keajaiban-keajaiban yang bisa dilakukannya merupakan cobaan dari Allah Ta’ala untuk umat manusia yang masih hidup pada masa itu.
Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa masa kemunculannya di dunia nanti selama 40 hari, diantara hari-hari tersebut: sehari bagaikan setahun, sehari bagaikan sebulan, sehari bagaikan seminggu, kemudian hari-hari lainnya sebagaimana biasa; atau kalau kita jumlahkan sama dengan satu tahun dua bulan dua minggu. Hadits-hadits tentang Ad-Dajjal ini telah diriwayatkan oleh kalangan banyak sahabat, antara lain: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal, Jabir bin ‘Abdullah, Abu Sa’id Al Khudri, An-Nawwas bin Sim’an, Anas bin Malik, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, Ummu Salamah, Fathimah binti Qais dan lain-lain. Masalah ini bisa dirujuk dalam:
Shahih Al-Bukhari: Kitab Al-Fitan bab 26,27; Kitab Tauhid bab 27,31.
Shahih Muslim: Kitab Al-Fitan bab 20-25.
Shahih At-Tirmidzi: Kitab Al-Fitan bab 55-62.
Sunan Abu Dawud: Kitab Al-Malahim bab 14,15.
Sunan Ibnu Majah: Kitab Al-Fitan bab 33.
Musnad Imam Ahmad: jilid 1 hal. 6,7; jilid 2 hal. 33,37,67,104,124,131; jilid 5 hal. 27,32,43,47.
dan kitab-kitab koleksi hadits lainnya.
Kandungan tulisan ini:
Tafsiran ayat dalam surah Al-Kahfi. Ayat ini menunjukkan bahwa amal ibadah tidak akan diterima oleh Allah kecuali bila memenuhi dua syarat:
Pertama: ikhlas semata-mata karena Allah, tidak ada syirik di dalamnya sekalipun syirik kecil seperti riya’.
Kedua: sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena suatu amal disebut shaleh jika ada dasar perintahnya dalam agama.
Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa ibadah itu tauqifiyah, artinya berlandaskan pada ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak menurut akal maupun hawa nafsu seseorang.
Masalah penting sekali, yaitu: bahwa amal shaleh apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan Lillah, maka tidak diterima oleh Allah.
Disebutkan alasan yang menyebabkan hal tersebut, yaitu: bahwa Allah adalah Sembahan yang amat menolak perbuatan syirik karena sifat ke-Mahacukupan-Nya.
Alasan lainnya, bahwa Allah adalah Sekutu yang terbaik.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat khawatir apabila sahabatnya melakukan riya’.
Tafsiran riya’, contohnya: seseorang melakukan shalat dengan niat Lillah, akan tetapi dia perindah shalatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.

Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Oleh: abuamr | April 23, 2009

MANTRA DEMOKRASI

OLEH :
Adian Husaini

(Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Saat menjadi wartawan Harian Berita Buana, tahun 1990, saya pernah ditugasi meliput satu seminar tentang demokrasi di salah satu hotel di Jakarta. Tema seminarnya tentang demokrasi dan agama-agama. Saat itu, banyak diskusi tentang demokrasi digelar. Seperti paham-paham lainnya, karena dianggap sebagai paham yang bersifat universal dan harus dipeluk oleh seluruh umat manusia, maka agama-agama juga diminta menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Para tokoh dari berbagai agama yang hadir dalam seminar itu kemudian didorong untuk memberikan legitimasi, bahwa paham demokrasi adalah sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Salah satu buku yang diperbincangkan pada dekade 1990-an adalah The Third Wave: Democratization in the late Twentieth Century, karya Samuel P. Huntington. (Tahun 1995, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Grafiti, dengan judul Gelombang Demokratisasi Ketiga). Huntington, menyimpulkan dalam buku ini: “singkat kata, demokrasi hanya cocok bagi Negara-negara eropa barat laut dan barangkali negeri-negeri Eropa tengah serta koloni-koloni penduduk yang berasal dari Negara itu? (hal 386). Tentang Islam, Huntington menyebutkan, bahwa “doktrin Islam mengandung unsur-unsur yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan demokrasi.” (hal 396). Bahkan, Huntington juga menegaskan: “Budaya Islam dan konfusius menghadapkan perkembangan demokrasi dengan penghalang yang tidak mudah teratasi.” (hal 398).

Seolah-olah seperti terprovokasi oleh Huntington, banyak kalangan cendekiawan yang kemudian tersengat, lalu berterial lantang bahwa “Islam sesuai dengan demokrasi!”. Hanya ada seorang cendekiawan dalam seminar itu yang memberikan kritik terhadap konsep demokrasi. Karena sudah menjadi tren global, maka banyak orang yang kemudian ikut-ikutan latah menyuarakan lagu wajib’demokrasi’. Bahwa, seolah-olah, demokrasi adalah berkah yang harus dipeluk oleh setiap manusia. Hanya dengan demokrasilah, suatu bangsa akan menjadi bangsa besar. Bahkan, ada yang menjadikan demokrasi bukan sekedar mekanisme pemilihan kepemimpinan, tetapi sebagai tujuan dan jalan hidup itu sendiri. Pokoknya, harus demokrasi! Makmur atau sengsara, tidak penting!

Maka, sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, banyak kalangan kini berteriak dimana-mana, membanggakan diri, bahwa Indonesia adalah Negara demokrasi muslim terbesar di dunia. Banyak cendekiawan juga yang senang jika dipuji-puji oleh para petinggi AS, bahwa Indonesia adalah Negara demokrasi terbesar ketiga di duia (setelah AS dan India). Saat berkunjung ke Indonesia, pada 18 februeri 2009, Menlu AS, Hillary Clinton menyatakan: “Indonesia telah mengalami transformasi yang besar dalam sepuluh tahun terakhir. Beberapa hal yang saya catat adalah penghormatan atas HAM, demokratisasi, sukses mengakhiri konflik sektarian dan menjadi tempat yang aman.” Kata Hillary

Salah satu ciri manusia Indonesia, menurut Budayawan Mochtar Lubis, adalah senang dengan takhayul dan mantra-mantra. Kata Mochtar, dalam bukunya, Manusia Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001): “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia masih percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat baru, Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”

Ya, jika kita perhatikan, oleh banyak kalangan~bahkan oleh orang-orang yang disebut cendekiawan~demokrasi telah dijadikan mantra. Kata ini ditulis, dislogankan, dikampanyekan, dan diucapkan berulang-ulang tanpa kritis. Mereka tidak berfikir panjang, apa sebenarnya makna dan konsekuensi demokrasi. Padahal, Negara-negara yang menggembar-gemboskan demokrasi pun ~seperti AS~ juga tidak mau menerapkan demokrasi sepenuhnya. Demokrasi hanya diterapkan jika mereka perlu, dan sesuai dengan kepentingan mereka.

Lihat saja, ketika Hamas menang pemilu Palestina, maka AS pun menolak demokrasi, sebab hasilnya tidak sesuai dengan kemauan AS. PBB adalah contoh nyata tidak adanya demokrasi. Barat (AS dan sekutunya) tidak percaya, bahwa umat manusia yang mayoritas dapat menghasilkan keputusan yang baik buat dunia internasional, jika bertentangan dengan kemauan mereka. Karena itu, sejak awal berdirinya PBB, 24 Oktober 1945, Barat memaksakan sistem “aristokratik”, dimana kekuasaan PBB diberikan kepada beberapa buah Negara yang dikenal sebagai “The big five” (AS, Rusia, Perancis, Inggris, Cina). Kelima Negara inilah yang mendapatkan hak istimewa berupa hak ‘veto’ (dari bahasa latin: veto artinya saya melarang). Lima Negara ini merupakan anggota tetap dari 15 anggota Dewan keamanan PBB. Sisanya, 10 negara, dipilih setiap dua tahunoleh Majelis umum PBB. Pasal 24 piagam PBB menyebutkan, bahwa dewan ini mempunyai tugas yang sangat vital yaitu “Bertanggung jawab untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional”. Jika satu resolusi diveto oleh salah satu anggota tetap Dewan keamanan PBB, maka resolusi itu tidak dapat diterapkan. Dalam pasal 29 piagam PBB dikatakan: “Decision of the security council on all other matters shall be made by an affirmative vote of nine members including the concurring votes of the permanent members.”

Falsafah PBB yang meletakkan system yang aristokratis ini menunjukkan, bahwa demokrasi liberal adalah sebuah pilihan yang tidak selalu didukung oleh Barat. Jika percaya pada falsafah demokrasi, bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” (vox populi vox dei), mengapa barat tidak mau melakukan restrukturisasi PBB, yang sudah berpuluh-puluh tahun dituntut oleh mayoritas Negara di dunia? Dunia seringkali disuguhi tontonan ironis di PBB, ketika mayoritas anggota PBB di majelis umum menyetujui satu resolusi, tetapi hanya karena satu Negara anggota tetap dewan keamanan tidak setuju, maka keputusan PBB itu menjadi tidak bergigi. Dewan keamanan PBB juga tidak pernah berhasil mengeluarkan resolusi yang mengecam tindakan AS. Sebab, dalam falsafah dan system PBB, AS tidak dapat dihukum, apapun kejahatannya. Meskipun sudah melakukan kebiadaban yang luar biasa di Palestina, Israel tetap aman-aman saja. Padahal, mayoritas dunia mengutuk serangan Israel ke Gaza.

Jadi, demokrasi jelas bukan konsep ideal bagi manusia. Dia digunakan jika memang diperlukan. Demokrasi, secara inhern, mengandung kezaliman. System ini menyamakan antara orang pandai dan orang bodoh. Suara seorang professor ilmu politik dihargai sama dengan suara seorang penduduk pedalaman yang buta huruf dan tidak pernah tahu hal ihwal politik sama sekali. Suara ulama yang shalih sama saja dengan suara seorang penjahat. Apakah ini adil? Al-Qur’an jelas membedakan antara “orang pandai” dan “orang bodoh.” Maka, aneh, jika masih ada kaum Muslim yang tergila-gila pada demokrasi dan bangga menjadikan demokrasi sebagai mantra hariannya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori